Jagai Makassar ta’, Jagai Indonesia ta’: Pesan Damai PSM di Tengah Gemuruh Politik
Luwu Timur– Di tengah kepulan asap yang menyelimuti gedung dewan dan gemuruh suara demo yang memecah konsentrasi sebuah kota, suara lain muncul dengan nada yang berbeda. Bukan dari politikus, bukan dari pengamat, melainkan dari sebuah institusi yang akarnya telah menyatu dengan denyut nadi masyarakat: Persatuan Sepakbola Makassar, atau yang kita kenal sebagai PSM.
Dari akun media sosialnya, pada Senin (1/9/2025), PSM mengirimkan pesan yang menggema jauh melampaui batas lapangan hijau. “Jagai Makassar ta’, Jagai Indonesia ta’,” seru mereka. Sebuah kalimat sederhana dalam bahasa lokal yang mengandung kedalaman makna yang luar biasa. “Jagai” berarti jaga, pelihara, lindungi. Ini bukan sekadar seruan, tetapi sebuah peringatan, sebuah doa, dan sebuah pernyataan sikap dari klub yang mewakili jiwa dan identitas orang Makassar.
Laga yang Ditunda, Persatuan yang Diuji
Situasi politik dan keamanan di Indonesia, khususnya di Makassar, memang sedang mencapai titik didih. Kericuhan yang terjadi pada Jumat (29/8) meninggalkan luka yang dalam. Gedung DPRD Makassar hangus dibakar, dan yang paling tragis, nyawa melayang. Saiful Akbar, Sarinawati, Muhammad Akbar Basri, dan Rusdamdiansyah adalah korban dari sebuah situasi yang telah melampaui batas-batas kemanusiaan.

Baca Juga: Malam Kelam Unjuk Rasa Gedung DPRD Sulsel Dibakar, Puluhan Kendaraan Jadi Bekakas
Dampaknya langsung terasa di dunia sepakbola. Kompetisi Liga Super 2025/2026, yang seharusnya menjadi hiburan dan pemersatu, terpaksa dibelokkan oleh realita pahit. Tiga laga ditunda: laga kandang PSM melawan Bhayangkara FC, duel panas Persib Bandung vs Borneo FC, dan pertandingan Persita vs Semen Padang. Lapangan-lapangan yang seharusnya riuh oleh sorak penonton, kini hanya meninggalkan keheningan yang menyesakkan. Keputusan ini bukan tentang olahraga, melainkan tentang keselamatan. Ini adalah pengakuan bahwa ada hal yang lebih penting dari tiga poin: nyawa manusia.
Lebih Dari Sekadar Klub: PSM dan Filosofi “Sipakalebbi”
Apa yang membuat pesan PSM begitu powerful? Karena PSM bukanlah klub biasa. Di Makassar, PSM adalah sebuah identitas kolektif. Ia adalah kebanggaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dan jiwa dari klub ini dibangun di atas fondasi budaya Bugis-Makassar yang luhur: Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge.
-
Sipakatau (saling memanusiakan): Mengingatkan bahwa di atas segala perbedaan, kita harus melihat sesama sebagai manusia yang utuh, dengan hak, perasaan, dan martabat yang sama. Kematian korban dalam kerusuhan adalah pelanggaran berat terhadap prinsip ini.
-
Sipakalebbi (saling memuliakan): Bahwa kita harus saling menghargai dan menghormati. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, tetapi menyelesaikannya dengan kekerasan dan penghancuran adalah bentuk ketidakmampuan untuk memuliakan lawan bicara.
-
Sipakainge (saling mengingatkan): Inilah peran yang diambil PSM. Sebagai bagian dari masyarakat, mereka merasa punya tanggung jawab untuk mengingatkan anak bangsa agar tidak terjerumus ke dalam kubangan konflik yang lebih dalam.
Pesan PSM adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai ini. Mereka tidak memihak pada kelompok politik tertentu, tetapi memihak pada kemanusiaan dan perdamaian.
Sepakbola sebagai Oase Penyejuk
“Mari kita tunjukkan sepakbola mampu menghadirkan semangat yang menyejukkan!” seru PSM. Dalam kalimat ini, tersimpan keyakinan besar terhadap kekuatan olahraga, khususnya sepakbola, sebagai perekat sosial.
Di Stadion Gelora Bung Karno atau Stadion Andi Mattalatta, puluhan ribu orang dengan latar belakang yang berbeda-beda—agama, suku, status sosial—bersatu dalam satu warna: merah dan biru PSM. Mereka menyanyikan lagu yang sama, merasakan debaran yang sama, dan berharap untuk kemenangan yang sama. Itulah kekuatan kolektif sepakbola. Ia adalah metafora yang sempurna untuk persatuan bangsa; di mana setiap individu, seperti pemain di lapangan, punya peran berbeda tetapi mengejar satu tujuan bersama.
“Sepakbola adalah perjuangan kolektif, bukan hanya soal kemenangan di lapangan, tapi juga tentang menjaga persatuan bangsa,” tambah pernyataan itu. Ini adalah pengingat bahwa kemenangan sejati bukan hanya dicetak di papan skor, tetapi juga dibangun di tengah-tengah masyarakat yang rukun dan damai.
Seruan untuk Bersatu: Kemanusiaan di Atas Segalanya
Penutup pesan PSM begitu menggugah: “Mari ki’ bersatu! Mari kita menempatkan kemanusiaan di atas segalanya, demi Indonesia yang utuh dan berdaulat!”
Kata “ki’” (kita dalam bahasa Makassar) adalah kata penegas yang bersifat inklusif, mengajak semua elemen tanpa terkecuali. Seruan ini menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, melampaui kepentingan politik jangka pendek, ambisi kelompok, atau narasi kebencian yang sedang diperdengarkan.
Di saat para elite mungkin sibuk saling menyalahkan, PSM justru turun ke akar rumput dengan pesan yang universal: saling menjaga. “Jagai Makassar ta’” adalah seruan untuk menjaga tetangga, menjaga kota, dan menjaga warisan budaya. “Jagai Indonesia ta’” adalah komitmen untuk menjaga kesatuan bangsa yang besar dan beragam ini.
Pesan damai PSM Makassar adalah sebuah testament bahwa sepakbola memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar olahraga. Ia adalah cermin masyarakat, penggerak emosi, dan dalam momen-momen seperti ini, ia dapat menjadi penjaga moral dan suara penyejuk.
“Jagai Makassar ta’, Jagai Indonesia ta’” bukan sekadar slogan. Ia adalah sebuah filosofi hidup, sebuah seruan untuk bertindak, dan sebuah pengingat akan tanggung jawab kita bersama. Di tengah situasi yang panas, PSM telah mengalirkan air penyejuk yang berasal dari kearifan lokal leluhurnya.
Mari kita dengarkan pesan dari lapangan hijau ini. Mari kita jaga Makassar, kita jaga Indonesia, kita jaga sesama. Karena pada akhirnya, di luar rivalitas politik dan sepakbola, kita semua adalah satu tim: Tim Indonesia.








