Luwu Timur – Sebuah jembatan kayu penghubung antara Desa Embonata dan lima desa lainnya di Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, mengalami kerusakan parah hingga miring dan nyaris ambruk. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga karena jembatan tersebut merupakan satu-satunya jalur vital untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Jembatan kayu sepanjang sekitar 30 meter itu mengalami kerusakan akibat termakan usia dan kurangnya pemeliharaan. Selain menjadi jalur transportasi utama bagi masyarakat, jembatan ini juga berfungsi sebagai penghubung enam desa di Kecamatan Seko menuju ibu kota Kabupaten Luwu Utara, sehingga keberadaannya sangat strategis untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
“Kondisi jembatan sangat membahayakan, apalagi saat musim hujan dan arus sungai meningkat. Kita tidak bisa menunggu perbaikan resmi terlalu lama karena warga tetap harus beraktivitas setiap hari,” ujar salah seorang warga setempat.
Menyikapi kondisi ini, warga yang dibantu oleh anggota TNI setempat melakukan langkah swadaya darurat. Mereka menutup jembatan yang rusak dan membuat rakit sederhana untuk menyeberangi sungai. Rakit ini bahkan digunakan untuk menyeberangkan kendaraan roda dua, memastikan mobilitas warga tetap berjalan meski jembatan utama tidak bisa dilewati.
Proses pembuatan rakit darurat dilakukan dengan bahan seadanya, seperti kayu gelondongan dan tali pengikat, dan memerlukan kerja sama antarwarga serta anggota TNI. Selain menyeberangkan warga, rakit ini juga dimanfaatkan untuk mengangkut kebutuhan pokok, peralatan sekolah, dan hasil pertanian dari desa-desa yang terdampak.
Pihak pemerintah daerah telah dihubungi terkait kondisi jembatan, namun hingga saat ini perbaikan permanen belum terlaksana karena terbentur anggaran dan lokasi yang sulit dijangkau. Masyarakat berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan pembangunan jembatan baru yang lebih kuat dan aman, sehingga aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di Kecamatan Seko tidak terganggu.
“Kami berharap pemerintah cepat bertindak. Selama ini kami bertahan dengan rakit darurat, tapi itu hanya solusi sementara. Anak-anak tetap harus pergi ke sekolah, warga harus bisa berjualan dan membawa hasil pertanian mereka ke pasar,” kata kepala desa setempat.
Insiden ini menjadi peringatan penting tentang kondisi infrastruktur di daerah terpencil, khususnya jembatan penghubung desa-desa di Luwu Utara, yang rawan mengalami kerusakan parah akibat usia dan kondisi alam. Pemerintah diharapkan menyiapkan program perbaikan infrastruktur terpadu agar mobilitas masyarakat dan ekonomi lokal tetap terjaga.


















